Haruskah?
[Memangnya ada orang yang saleh? Di zaman ini? Yaaaa, kalau bicara nabi-nabi dan rasul-rasul okelah, tapi kita? Apa mungkin kita bisa saleh? Kalau ada yang bilang dia orang saleh, sudah pasti itu menipu. Tidak mungkin ada manusia yang bisa saleh sekarang. Alkitab itu ditulis ribuan tahun yang lalu, kitab Wahyu yang terakhir saja ditulis sekitar tahun 100 Masehi, berarti hampir 2000 tahun yang lalu. Kondisi dunia sudah berubah.
[Memangnya ada orang yang saleh? Di zaman ini? Yaaaa, kalau bicara nabi-nabi dan rasul-rasul okelah, tapi kita? Apa mungkin kita bisa saleh? Kalau ada yang bilang dia orang saleh, sudah pasti itu menipu. Tidak mungkin ada manusia yang bisa saleh sekarang. Alkitab itu ditulis ribuan tahun yang lalu, kitab Wahyu yang terakhir saja ditulis sekitar tahun 100 Masehi, berarti hampir 2000 tahun yang lalu. Kondisi dunia sudah berubah.
Haruskah?
[Memangnya ada orang yang saleh? Di zaman ini? Yaaaa, kalau bicara nabi-nabi dan rasul-rasul okelah, tapi kita? Apa mungkin kita bisa saleh? Kalau ada yang bilang dia orang saleh, sudah pasti itu menipu. Tidak mungkin ada manusia yang bisa saleh sekarang. Alkitab itu ditulis ribuan tahun yang lalu, kitab Wahyu yang terakhir saja ditulis sekitar tahun 100 Masehi, berarti hampir 2000 tahun yang lalu. Kondisi dunia sudah berubah.
[Memangnya ada orang yang saleh? Di zaman ini? Yaaaa, kalau bicara nabi-nabi dan rasul-rasul okelah, tapi kita? Apa mungkin kita bisa saleh? Kalau ada yang bilang dia orang saleh, sudah pasti itu menipu. Tidak mungkin ada manusia yang bisa saleh sekarang. Alkitab itu ditulis ribuan tahun yang lalu, kitab Wahyu yang terakhir saja ditulis sekitar tahun 100 Masehi, berarti hampir 2000 tahun yang lalu. Kondisi dunia sudah berubah.
Kondisi dunia sudah berubah tapi sebenarnya tidak
sebanyak yang kita sangka. Inilah yang selalu dikatakan orang Kristen
mayoritas.
Coba, apa bedanya manusia purba dengan kita sekarang?
Mereka bodoh dan kita canggih? Sama sekali tidak. Manusia-manusia purba itu
canggih-canggih, tidak kalah dengan teknologi modern kita.
Nuh dengan tiga orang anaknya tanpa peralatan berat,
tanpa peralatan modern, bisa membangun bahtera yang ukurannya tidak bisa kita
bayangkan besarnya, karena bisa muat semua binatang yang ada pada masa itu,
yang halal 7 pasang, yang haram 1 pasang. Belum lagi binatang purba itu
besar-besar ukurannya. Itu belum semuanya lho, lha makanan yang harus dibawa
Nuh untuk semua binatang itu dan keluarganya? Mereka terkurung dalam bahtera
itu selama 1 tahun + 10 hari (lihat Kejadian 7:11, 8:14), masa disuruh puasa
tidak makan semua? Lha air minum? Kan tidak bisa minum air laut? Mau nadah air
hujan dari langit? Hujannya hanya 40 hari. Lha setelah itu? Apalagi pintu
bahtera itu yang menutup Tuhan, Nuh tidak bisa membukanya sendiri kalau bukan
Tuhan yang membukakan. Jadi semua makanan dan air minum, air untuk masak harus
sudah tersedia di dalam bahtera.
Lalu jangan lupa menara Babel. Mereka bisa membangun
menara Babel yang direncanakan mencapai ke langit! Tanpa mesin derek lo.
Kita mengenal piramida-piramida Mesir, patung Sphinx
yang besar-besar, candi Borobudur, bagaimana caranya manusia memindahkan
batu-batu besar itu dan menaikkannya ke tingkat-tingkat yang di atas? Bayangkan
hebatnya teknologi zaman purba! Bayangkan pintarnya otak mereka. Ahli
matematika tidak usah pakai komputer ngitungnya, dan bangunannya tidak ambruk
selama berabad-abad. Kita aja bikin jembatan baru diresmikan sudah ambrol.
Okelah, tapi manusia sekarang kan jahat-jahat, beda
dengan orang-orang dulu. Tambah lama tambah tinggi angka kejahatan, kan? Jadi
tuntutan Tuhan manusia harus saleh sekarang itu sudah tidak sesuai dengan
kondisi zaman.
Oh iya? Siapa bilang manusia purba tidak jahat? Kain
itu membunuh adiknya hanya gara-gara persembahannya ditolak Tuhan sedangkan
persembahan adiknya diterima. Begitu jahatnya manusia (Kejadian 6:5) sampai di
zaman Nuh Tuhan harus membinasakan seluruh dunia! Tuhan yang Mahatahu sudah
tahu bahwa mereka tidak bakal bertobat, tidak mau diselamatkan. Maka seluruh
dunia sekaligus disapu habis, hanya Nuh sekeluarga yang selamat.
Sejahat-jahatnya manusia sekarang, sampai detik ini masih belum dibinasakan
Tuhan sekaligus.
Jadi, kita tidak punya alasan untuk mengatakan bahwa
tuntutan Tuhan agar umatNya hidup saleh itu tidak lagi relevan di zaman ini
karena manusia sudah bertambah jahat atau karena kondisi sekarang beda dengan
kondisi dulu. Tuhan tidak pernah berubah. Apa yang diminta Tuhan dari umatNya
di zaman purba, di zaman nabi-nabi, di zaman apostolik, di zaman kita, sama,
yaitu umat Tuhan harus meninggalkan dosa.
Maka muncul pertanyaan yang sering menjadi
pertentangan banyak orang Kristen, dan ini dibahas juga dalam kelas Pendalaman
Alkitab kami hari Sabat yang lalu:
• Bukankah kita diselamatkan oleh kasih karunia? Kan
sudah cukup hanya dengan percaya saja bahwa Yesus adalah Juruselamat dan Tuhan?
Mengapa ada tuntutan harus hidup saleh lagi?
• atau kita diselamatkan oleh kasih karunia + UPAYA
kita (menjadi saleh itu tadi) sehingga kita diharuskan hidup saleh?
Satu-satunya agama di dunia yang menyodorkan konsep
keselamatan melalui iman kepada JURUSELAMAT adalah agama Kristen. Agama-agama
yang lain semuanya mengajarkan konsep selamat melalui perbuatan/upaya manusia
itu sendiri, amal ibadahnya sendiri yang bisa membawa manusia ke Surga.
Karena itu bagi orang Kristen seharusnya TIDAK PERLU
MUNCUL PERTANYAAN keselamatan itu diperoleh dari mana. Sudah benar konsepnya
bahwa KESELAMATAN ITU KITA PEROLEH 100% DARI TUHAN, KARENA KASIH KARUNIANYA.
Titik.
Kristus sudah mati bagi kita sebelum kita mengenal
Dia. Tidak ada usaha apa pun (baik amal maupun ibadah) dari kita yang bisa
mewujudkan keselamatan kita.
Keselamatan itu SUDAH DISEDIAKAN TUHAN bagi semua
manusia sejak Adam berdosa. Janji keselamatan yang pertama diberikan Allah
tercantum di Kejadian 3:15 [NKJV yang diindonesiakan: “Aku akan mengadakan
permusuhan antara engkau dan perempuan ini antara benihmu dan Benihnya.
Benihnya akan meremukkan kepalamu,dan engkau akan meremukkan
tumitNya.” Ini adalah kata-kata Tuhan sendiri kepada ular (yaitu Setan)
yang telah menipu Hawa dan menyebabkan Adam dan Hawa berbuat dosa melanggar
perintah Tuhan. Biasanya suatu perjanjian itu dibuat bersama oleh dua
pihak, suatu kesepakatan bersama yang akan dipenuhi oleh kedua belah pihak.
Tetapi ini adalah perjanjian yang sepihak. Ini bukan
perjanjian Tuhan dengan ular. Tetapi di sini Tuhan yang berjanji akan melakukan
sesuatu. Dan ular (atau Setan), mau tidak mau, terikat pada janji ini. Setan
tidak punya kuasa untuk menolak penggenapan janji Tuhan ini.
Apa yang dijanjikan Tuhan?
1. Tuhan berjanji bahwa Dia akan mengadakan permusuhan dengan Setan. Berarti sudah jelas Tuhan menyatakan Setan sebagai musuhNya. Status Setan tidak akan berubah. Tuhan sudah menyatakan Setan itu musuhNya.
1. Tuhan berjanji bahwa Dia akan mengadakan permusuhan dengan Setan. Berarti sudah jelas Tuhan menyatakan Setan sebagai musuhNya. Status Setan tidak akan berubah. Tuhan sudah menyatakan Setan itu musuhNya.
2. Tuhan berjanji akan ada Benih atau terjemahan LAI
menyebutnya “keturunan” dari Hawa ~ berarti “Benih” ini seorang keturunan
manusia ~ yang akan meremukkan kepala Setan. Kalau kepalanya diremukkan, masih
ada kemungkinan hidup tidak? Jelas tidak. Berarti “Benih” ini akan
mengeliminasi Setan. Setan bakal tamat riwayatnya.
3. dan dalam proses itu, Setan sempat meremukkan tumit
Benih itu. Berarti Benih ini juga harus menderita. Permusuhan tersebut tidak
dapat diselesaikan tanpa Benih itu menderita diremukkan tumitNya oleh Setan.
Tetapi kalau hanya tumit saja yang remuk, fatal tidak? Masih ada kemungkinan hidup
tidak? Jelas tidak fatal. Menderita iya, tapi tidak mematikan.
Hanya membaca ayat ini tidak jelas siapa “Benih” itu. Tetapi jika kita membaca seluruh Alkitab, jelas sekali yang dimaksud dengan “Benih” di sini adalah Yesus Kristus. Dan ini sudah diketahui semua orang Kristen, tidak perlu dibahas lagi di sini.
Hanya membaca ayat ini tidak jelas siapa “Benih” itu. Tetapi jika kita membaca seluruh Alkitab, jelas sekali yang dimaksud dengan “Benih” di sini adalah Yesus Kristus. Dan ini sudah diketahui semua orang Kristen, tidak perlu dibahas lagi di sini.
Ketika Tuhan membuat janji itu, apakah karena Adam
lebih dulu berkata kepada Tuhan, “Tuhan, maafkan aku, mulai sekarang aku akan
menuruti semua perintahMu, tolonglah aku.” Lalu Tuhan berkata, “Baik, kalau
begitu Aku akan mengirim Benih untuk mengeliminasi Setan.”? Tidak. Adam tidak
pernah berkata demikian.
Apakah Tuhan berunding dulu dengan Adam? Apakah Tuhan
bertanya, “Adam, apa kamu mau berbuat ini-ini-ini, maka Aku akan mengirim Benih
untuk mengeliminasi Setan.”? Tidak. Tuhan tidak minta apa-apa dari Adam. TUHAN
YANG MENENTUKAN.
Jadi, siapa yang punya inisiatif untuk menyelamatkan
manusia berdosa dan mengeliminasi Setan? TUHAN.
Apa peranan manusia dalam hal ini? NOL. Tidak ada. Adam dan Hawa sedang gemetaran, ketakutan. Tidak kontribusi apa-apa. Tidak punya andil apa-apa.
Apa peranan manusia dalam hal ini? NOL. Tidak ada. Adam dan Hawa sedang gemetaran, ketakutan. Tidak kontribusi apa-apa. Tidak punya andil apa-apa.
Jadi, KESELAMATAN ITU DATANG DARI MANA? 100% DARI
TUHAN.
Karena apa? Karena KASIH KARUNIA TUHAN.
Karena apa? Karena KASIH KARUNIA TUHAN.
Yohanes 3:16 mencatat:“Karena begitu besar kasih Allah
akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal itu
supaya setiap orang yang percaya dalam Dia tidak binasa,melainkan beroleh hidup
yang kekal.” Sampai di sini tentu semua orang Kristen setuju.
NAH, SEKARANG KITA DATANG KE TEMA KONTROVERSI KITA.
Jika kita diselamatkan oleh kasih karunia Tuhan, lalu mengapa di Alkitab ada banyak ayat yang mengatakan kita harus begini, harus begitu, tidak boleh begini, tidak boleh begitu? Jika kita sudah diselamatkan bukan karena perbuatan kita, mengapa setelah itu kita masih punya kewajiban berbuat macam-macam? Kita kan sudah diselamatkan! Berarti apa pun perbuatan kita, itu tidak mempengaruhi keselamatan kita, bukan? Kita toh tidak diselamatkan karena perbuatan kita? Orang paling benci dengan kewajiban. Kalau bicara hak pasti diperjuangkan, jangan sampai haknya tidak diperoleh. Tapi kalau bicara kewajiban, banyak orang alergi. Kalau bisa itu tidak usah disinggung saja.
Jika kita diselamatkan oleh kasih karunia Tuhan, lalu mengapa di Alkitab ada banyak ayat yang mengatakan kita harus begini, harus begitu, tidak boleh begini, tidak boleh begitu? Jika kita sudah diselamatkan bukan karena perbuatan kita, mengapa setelah itu kita masih punya kewajiban berbuat macam-macam? Kita kan sudah diselamatkan! Berarti apa pun perbuatan kita, itu tidak mempengaruhi keselamatan kita, bukan? Kita toh tidak diselamatkan karena perbuatan kita? Orang paling benci dengan kewajiban. Kalau bicara hak pasti diperjuangkan, jangan sampai haknya tidak diperoleh. Tapi kalau bicara kewajiban, banyak orang alergi. Kalau bisa itu tidak usah disinggung saja.
Dan sifat tidak menyukai kewajiban inilah yang membuat
banyak orang Kristen memilih konsep “SEKALI SELAMAT SELAMANYA SELAMAT”,
maksudnya perbuatan kita tidak mempengaruhi keselamatan kita. Penebusan Tuhan
Yesus telah membebaskan kita dari segalanya. Perbuatan kita tidak akan
menghapus keselamatan kita karena keselamatan itu tadinya tidak diberikan
berdasarkan perbuatan kita. Dan sebagian besar masyarakat Kristen menganut
faham ini. Gereja-gereja yang mengajarkan konsep “sekali selamat selamanya
selamat” itu sangat populer dan memiliki jumlah jemaat yang besar.
“Bersukacitalah, karena sudah diselamatkan, Surga itu kepastian. Semua orang
yang sudah mengakui Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan, sudah pasti
selamat, otomatis masuk Surga.” Itu motto mereka.
INILAH PENIPUAN TERBESAR SETAN UNTUK MENYESATKAN ORANG
KRISTEN.
Tidak ada konsep “sekali selamat selamanya selamat” itu di Alkitab. Lihat beberapa ayat di Alkitab, apakah orang Kristen itu perbuatannya dihakimi atau tidak oleh Tuhan: 1 Petrus 4:17 “Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika PENGHAKIMAN ITU DIMULAI PADA KITA, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah?
Tidak ada konsep “sekali selamat selamanya selamat” itu di Alkitab. Lihat beberapa ayat di Alkitab, apakah orang Kristen itu perbuatannya dihakimi atau tidak oleh Tuhan: 1 Petrus 4:17 “Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika PENGHAKIMAN ITU DIMULAI PADA KITA, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah?
Sangat jelas ayat ini berkata apa? “PENGHAKIMAN ITU
DIMULAI PADA KITA”. Siapa “KITA” di sini?
Siapa yang menulis ayat ini? Petrus. Siapa Petrus? Orang atheis? Penyembah berhala? Bukan. Petrus adalah murid Yesus, orang Kristen, seorang rasul, murid Yesus angkatan pertama. Jadi bila Petrus berkata “KITA” siapa yang dimaksud olehnya? Orang atheis? Orang-orang beragama lain? Bukan! “KITA” adalah orang-orang Kristen yang sama dengan Petrus, orang-orang yang mengaku Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat!
Siapa yang menulis ayat ini? Petrus. Siapa Petrus? Orang atheis? Penyembah berhala? Bukan. Petrus adalah murid Yesus, orang Kristen, seorang rasul, murid Yesus angkatan pertama. Jadi bila Petrus berkata “KITA” siapa yang dimaksud olehnya? Orang atheis? Orang-orang beragama lain? Bukan! “KITA” adalah orang-orang Kristen yang sama dengan Petrus, orang-orang yang mengaku Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat!
Jadi apakah orang-orang Kristen MASIH PERLU DIHAKIMI?
Jelas ayat ini berkata, justru penghakiman itu dimulai dari orang-orang Kristen!
Wahyu 20:12-13 “Dan aku melihat orang-orang
mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab.
Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati
dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam
kitab-kitab itu. Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di
dalamnya, dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di
dalamnya, dan MEREKA DIHAKIMI MASING-MASING MENURUT PERBUATANNYA. Sekarang,
bagaimana kita dihakimi? Apa kita yang dihakimi?
Apakah hanya kita sudah atau belum menerima Yesus
Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan kita, begitu? Ayat ini jelas sekali
mengatakan, “mereka dihakimi masing-masing menurut PERBUATANNYA.” Perbuatan
kita yang dihakimi.
Jadi apakah perbuatan kita bisa menyebabkan kita gagal dibawa ke Surga?
Jadi apakah perbuatan kita bisa menyebabkan kita gagal dibawa ke Surga?
B I S A S E K A L I !!!
Perbuatan kita yang menentukan apakah kita akan dibawa ke Surga atau apakah kita akan ditinggalkan mati di dunia. Jadi, bila ada yang mengatakan “sekali selamat selamanya selamat”, sadarilah, itu bukan ajaran Tuhan, itu ajaran musuh Tuhan yang sengaja menjebak manusia supaya mereka nantinya gagal selamat semua. Banyak orang Kristen menganggap karena mereka sudah Kristen berarti pasti selamat, ternyata tidak begitu ketentuan Tuhan, mereka telah tertipu. Selama ini mereka sudah tidak hidup sesuai perintah Tuhan karena menganggap mereka sudah diselamatkan dan mereka tidak dihakimi, pada akhir zaman mereka baru sadar bahwa mereka gagal dibawa ke Surga. Pada saat itu sudah terlambat untuk mau mematuhi perintah Tuhan.
Perbuatan kita yang menentukan apakah kita akan dibawa ke Surga atau apakah kita akan ditinggalkan mati di dunia. Jadi, bila ada yang mengatakan “sekali selamat selamanya selamat”, sadarilah, itu bukan ajaran Tuhan, itu ajaran musuh Tuhan yang sengaja menjebak manusia supaya mereka nantinya gagal selamat semua. Banyak orang Kristen menganggap karena mereka sudah Kristen berarti pasti selamat, ternyata tidak begitu ketentuan Tuhan, mereka telah tertipu. Selama ini mereka sudah tidak hidup sesuai perintah Tuhan karena menganggap mereka sudah diselamatkan dan mereka tidak dihakimi, pada akhir zaman mereka baru sadar bahwa mereka gagal dibawa ke Surga. Pada saat itu sudah terlambat untuk mau mematuhi perintah Tuhan.
Tuhan sudah terus-menerus mengingatkan, bahwa
kepatuhan kepada perintah Tuhan itu adalah suatu keharusan bagi umat Tuhan.
Alkitab banyak sekali berisikan perintah Tuhan bahwa justru orang yang sudah
diselamatkan itu yang punya kewajiban tunduk kepada Tuhan. Sebelumnya coba
renungkan dulu ilustrasi ini:
• Umpama kita ini domba-domba ya. Orang Kristen kan
sering dilambangkan oleh domba. Kita ini tadinya domba-domba liar, hidup liar,
tersebar di mana-mana, pemilik domba-domba itu (yaitu Setan) memberi kebebasan
semua dombanya untuk hidup sesuka hati. Setan tidak punya hukum, tidak punya
peraturan, ikut Setan tidak ada larangan apa pun. Bebas semaunya boleh. Enak,
kan?
• Domba-domba yang dibiarkan liar sesukanya ini tentu
saja tidak tahu bahwa sebenarnya mereka sedang digiring kepada kebinasaan.
• Seorang Gembala yang baik melihat domba-domba yang
bakal binasa itu, lalu mau menyelamatkan mereka. Dia beli semua domba itu dari
pemiliknya. Dia bayar dengan harga yang sangat mahal. Dan semua domba itu pun
menjadi miliknya.
• Domba-domba itu tersebar di mana-mana. Maka Gembala
ini memanggil domba-domba itu.
• Tapi tidak semua domba mau datang kepada Gembala
yang telah membeli mereka. Banyak yang memilih tetap hidup bebas dan liar
karena sudah terbiasa hidup demikian.
• Gembala ini tidak memaksa supaya semua domba yang
sudah dibelinya harus mau mengikutinya. Hanya domba-domba yang datang kepadanya
yang dihampirinya.
• Kepada domba-domba yang datang kepadanya, Gembala
itu membungkuk mengulurkan tanganNya. Jika domba itu diam, tidak lari, atau
bahkan mendekat, maka berikutnya Gembala itu mengangkat domba ini, dipeluknya,
dan dibawanya pulang. Jadi domba itu modalnya hanya mau saja diangkat Sang
Gembala. Tidak punya modal lain, kan?
• Lalu sepanjang perjalanan dibawa pulang Sang
Gembala, domba itu juga tidak berbuat apa-apa, dia enak saja dalam gendongan
Sang Gembala. Yang menempuh perjalanan pulang ya Gembalanya, dombanya tidak
berjalan, tidak ada kontribusi apa-apa.
• Hingga tiba di tempat Gembala. Jadi domba itu tiba
di tempat Gembala 100% adalah jasa Sang Gembala. Domba itu tidak berbuat
apa-apa sama sekali.
• Sekarang, setiba di tempat, Gembala memasukkan domba
ini ke dalam kandang.
• Nah, sekarang! Setelah masuk ke dalam kandang, domba
ini tidak digendong lagi, kan? Domba itu harus mulai menjalani hidup yang baru,
sebagai domba yang dipelihara Gembala itu. Dan sekarang, domba itu harus
menjalani hidup yang baru, hidup di bawah pemeliharaan Sang Gembala.
Pertanyaan: Sama tidak pola hidupnya di dalam kandang
sekarang dengan pola hidupnya sewaktu bebas di mana-mana?
Ya jelas tidak sama. Kalau tadinya
dia bisa berbuat apa saja sesukanya, tidak ada yang melarang, tapi sekarang di
dalam kandang, dia harus hidup menurut peraturan Gembala. Gembala yang
menyediakan makanan dan minumannya, Gembala yang merawat dia, Gembala yang
melindungi dia dari serangan binatang buas, Gembala yang bertanggung jawab
penuh atas hidupnya; tapi sebaliknya domba itu harus patuh kepada perintah Sang
Gembala, kan? Domba itu harus tetap tinggal di dalam batasan pagar kandangnya.
Kalau dulu dia bebas makan apa saja sesukanya, sekarang dia hanya bisa makan
apa yang disediakan Gembala baginya. Kalau dulu dia bisa lepas sesukanya,
sekarang dia hanya lepas bila Sang Gembala yang mengajaknya keluar kandang.
Berarti, setelah ikut Sang Gembala, domba ini punya kewajiban tidak? Justru
setelah menjadi milik Sang Gembala, domba itu punya kewajiban patuh kepada Sang
Gembala! Domba itu tidak bebas lagi semaunya. Dia hidup terlindung, dipagari
kandang; dia makan terjamin, apa yang disajikan Sang Gembala; dia tergantung
100% kepada Sang Gembala.
Jadi kapan domba ini memiliki kewajiban patuh kepada
Gembalanya? Ketika dia SUDAH dibawa masuk ke kandang milik Gembala.
Sebelum itu dia tidak punya kewajiban untuk patuh karena Gembala itu bukan
tuannya. Tapi sekarang, Gembala itu menjadi tuannya, maka domba itu harus patuh
kepada tuannya.
Bisa ditangkap ilustrasi ini? Domba ini menggambarkan
kita.
Jadi sebelum kita diselamatkan, tidak ada kewajiban kita patuh kepada semua perintah Tuhan. Tapi justru SETELAH KITA DISELAMATKAN, kita baru punya kewajiban patuh kepada semua perintah Tuhan.
Jadi sebelum kita diselamatkan, tidak ada kewajiban kita patuh kepada semua perintah Tuhan. Tapi justru SETELAH KITA DISELAMATKAN, kita baru punya kewajiban patuh kepada semua perintah Tuhan.
Hukum-hukum Tuhan menjadi pagar kandang kita.
Sebagaimana domba itu hidup di dalam kandang, begitu pula kita harus hidup di
dalam pagar-pagar Hukum Tuhan.
Sekarang, susah tidak buat domba yang tadinya liar,
hidup sesukanya untuk berubah dan hidup menurut perintah Gembalanya? Susah,
pada awalnya. Semua perubahan itu susah. Begitu juga kita. Yang tadinya hidup
sesuka hati, makan sesuka hati, berbuat sesuka hati, sekarang harus belajar
tunduk pada perintah Tuhan. Susah.
Tetapi, sebagaimana Gembala itu mengajar dan melatih
dombaNya untuk tinggal di dalam kandang, begitu pula Tuhan memampukan kita
untuk mengubah pola hidup kita. Yang penting kita mau. Pepatah berkata, “Where
there is a will, there is a way”, di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Jadi
modalnya adalah KEMAUAN dari pihak kita. Selanjutnya Tuhan yang berkarya di
dalam kita.
Seperti domba liar itu sudah mau dibawa pulang, kita
juga sudah mau diselamatkan, maka langkah selanjutnya, kita perlu mau dididik
dan dilatih oleh Gembala kita untuk mematuhi perintah-perintahNya. Supaya apa?
Supaya kita diidentifikasi sebagai milikNya.
Jadi, semoga kita sekarang sudah paham, bahwa JUSTRU
SETELAH KITA DISELAMATKAN, KITA WAJIB HIDUP SESUAI KEHENDAK SANG GEMBALA,
KEHENDAK TUHAN.
Banyak orang Kristen yang tidak berpikir tentang
pertumbuhan kerohaniannya. Bertahun-tahun menjadi orang Kristen, tapi tidak
maju-maju. Tetap saja jalan di tempat. Untung-untung tidak mundur ke belakang.
Tetapi ternyata menurut Tuhan, anak-anak Tuhan itu
harus bertumbuh dan berbuah, dan bukan cuma bertumbuh asal-asalan, tetapi
bahkan harus menjadi sempurna. Bukan aku yang ngomong lho, Tuhan Yesus sendiri
yang ngomong. Mari kita lihat beberapa ayat.
Matius 5:48
“Karena itu HARUSLAH KAMU SEMPURNA, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."
“sempurna” lho, bukan asal-asalan, tapi “sempurna”. Artinya, jika SEHARUSNYA kita bisa, tetapi kita TIDAK melakukannya, maka itu TIDAK SEMPURNA namanya. Kita tidak bisa menipu Tuhan, maksudnya kita tidak bisa pura-pura mengaku tidak bisa ini, tidak bisa itu. Tuhan tahu sampai di mana kemampuan kita. Jangan khawatir, Tuhan itu baik dan adil. Jadi, Tuhan tahu apakah kita memang belum bisa atau sebenarnya kita sudah bisa hanya tidak mau melakukannya. Kalau sebenarnya kita bisa tapi kita tidak mau melakukannya, maka kita masuk kategori “tidak sempurna” di mata Tuhan.
“Karena itu HARUSLAH KAMU SEMPURNA, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."
“sempurna” lho, bukan asal-asalan, tapi “sempurna”. Artinya, jika SEHARUSNYA kita bisa, tetapi kita TIDAK melakukannya, maka itu TIDAK SEMPURNA namanya. Kita tidak bisa menipu Tuhan, maksudnya kita tidak bisa pura-pura mengaku tidak bisa ini, tidak bisa itu. Tuhan tahu sampai di mana kemampuan kita. Jangan khawatir, Tuhan itu baik dan adil. Jadi, Tuhan tahu apakah kita memang belum bisa atau sebenarnya kita sudah bisa hanya tidak mau melakukannya. Kalau sebenarnya kita bisa tapi kita tidak mau melakukannya, maka kita masuk kategori “tidak sempurna” di mata Tuhan.
Matius 13:23
“Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu IA BERBUAH, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat."
“Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu IA BERBUAH, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat."
Banyak orang Kristen menganggap “berbuah” ini hanya
terbatas pada mengajak orang lain masuk gereja. Itu juga, tapi itu bukan
satu-satunya buah yang dikehendaki Tuhan. Lebih daripada mengajak orang lain,
diri kita sendiri harus mimiliki buah-buah roh. Apa itu?
Galatia 5:22-23
“Tetapi buah Roh ialah: (1) kasih, (2) sukacita, (3) damai sejahtera, (4) panjang sabar, (5) kemurahan, (6) kebaikan, (7) kesetiaan, (8) kelemahlembutan, (9) penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.”
“Tetapi buah Roh ialah: (1) kasih, (2) sukacita, (3) damai sejahtera, (4) panjang sabar, (5) kemurahan, (6) kebaikan, (7) kesetiaan, (8) kelemahlembutan, (9) penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.”
Jadi memang benar kita diberi tugas istimewa untuk
menyampaikan kebenaran kepada orang lain, tetapi jangan lupa diri kita sendiri
juga harus bertumbuh. Kita harus menghasilkan buah-buah Roh, 9 hal yang
disebutkan di atas.
1 Yohanes 2:6
“Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia WAJIB hidup sama seperti Kristus telah hidup.”
Ini adalah suatu syarat, ini bukan suatu penawaran yang boleh diterima atau ditolak. Ini jelas adalah suatu syarat. Lihat, ada kata “ia WAJIB hidup sama seperti Kristus telah hidup” berarti ini syarat yang tidak bisa ditawar. Wajib! Sesuatu yang wajib itu namanya persyaratan.
“Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia WAJIB hidup sama seperti Kristus telah hidup.”
Ini adalah suatu syarat, ini bukan suatu penawaran yang boleh diterima atau ditolak. Ini jelas adalah suatu syarat. Lihat, ada kata “ia WAJIB hidup sama seperti Kristus telah hidup” berarti ini syarat yang tidak bisa ditawar. Wajib! Sesuatu yang wajib itu namanya persyaratan.
Lalu intinya, BAGAIMANA KRISTUS HIDUP ketika
berada di dunia? KRISTUS HIDUP TANPA BERBUAT DOSA! Sedikit pun! Sekali
pun! Dari mana kita tahu?
2 Korintus 5:21
“Dia [Kristus] yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya [dibuat Allah Bapa] menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia [Kristus] kita dibenarkan oleh Allah.” Jadi, Kristus itu tidak mengenal dosa, Dia tidak pernah berbuat dosa. Selama Dia hidup di dunia ini, Kristus tidak pernah berbuat dosa. Berarti, kita yang “WAJIB hidup sama seperti Kristus telah hidup” juga jangan lagi “mengenal dosa” setelah kita diselamatkan oleh Kristus. Itulah makna ayat-ayat ini.
“Dia [Kristus] yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya [dibuat Allah Bapa] menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia [Kristus] kita dibenarkan oleh Allah.” Jadi, Kristus itu tidak mengenal dosa, Dia tidak pernah berbuat dosa. Selama Dia hidup di dunia ini, Kristus tidak pernah berbuat dosa. Berarti, kita yang “WAJIB hidup sama seperti Kristus telah hidup” juga jangan lagi “mengenal dosa” setelah kita diselamatkan oleh Kristus. Itulah makna ayat-ayat ini.
Berarti sebagai orang Kristen yang telah diselamatkan,
kita WAJIB apa? WAJIB hidup seperti Kristus, dengan kata lain,
tidak berbuat dosa lagi. Dosa-dosa kita yang lama sudah diampuni ketika kita
menerima Kristus sebagai Juruselamat. Setelah itu seperti domba yang dibawa
pulang ke kandang Sang Gembala, kita harus belajar hidup sesuai perintah Sang
Gembala, kita bukan lagi domba liar di mana-mana yang hidup suka-suka sendiri,
kita sudah menjadi domba kandang milik Sang Gembala. Sejak saat kita menjadi
domba milik Sang Gembala, kita WAJIB HIDUP SESUAI STANDAR YANG DITENTUKAN
SANG GEMBALA.
Jadi jangan beranggapan, menjadi orang Kristen itu
tidak perlu berbuah. Coba apa kata Yesus tentang pohon yang tidak berbuah?
Matius 3:10 [NKJV yang diindonesiakan]
Matius 3:10 [NKJV yang diindonesiakan]
“Dan bahkan sekarang kapak sudah disiapkan pada akar
pohon. Oleh karena itu setiap pohon YANG TIDAK MENGHASILKAN BUAH YANG BAIK,
PASTI DITEBANG DAN DIBUANG KE DALAM API.”
Jadi urusan “berbuah” ini urusan serius, bukan hal
sepele. Jika kita tidak “berbuah yang baik” kita ditebang dan dibuang ke dalam
api! Tamatlah riwayat kita.
Sekarang pertanyaan: Mengapa banyak orang Kristen
tidak menghasilkan buah-buah Roh yang baik, atau tidak berbuah sama
sekali? Matius 13:22
“Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang
mendengar firman itu, lalu KEKUATIRAN DUNIA INI DAN TIPU DAYA KEKAYAAN mencekik
firman itu sehingga tidak berbuah.”
Yesus menjelaskan bahwa kekuatiran dunia, atau
“kekuatiran hari ini” seperti yang dikatakan bahasa aslinya, dan tipu daya
kekayaan telah mencekik benih-benih Firman Tuhan, sehingga benih-benih itu mati
dan tidak bisa bertumbuh hingga menghasilkan buah. Benar tidak?
Sangat benar! Kita selalu lebih mendahulukan segala
kepentingan duniawi, kepentingan hari ini di atas kewajiban kita terhadap
Tuhan. Tuhan itu kebagian nomor yang terakhir, kita selesaikan semua
kepentingan duniawi dan kepentingan sehari-hari kita dulu. Jika masih tersisa
waktu baru kita datang pada Tuhan.
Begitu juga dengan tipu daya kekayaan. Demi uang, kita
sering mengorbankan prinsip-prinsip yang diajarkan Tuhan kepada kita. Demi
uang, kita bahkan sering meninggalkan Tuhan sendiri.
Itulah sebabnya kita tidak menghasilkan buah.
Bagaimana mau punya buah, jika bertumbuh saja kita belum? Pohon itu bisa
berbuah bila dia sudah tumbuh cukup besar. Jika pohon itu tetap kecil saja,
sakit-sakitan, mana bisa menghasilkan buah?
Sekarang, kita tiba pada hal yang sangat penting
supaya setiap kita yang Kristen ini bisa menghasilkan buah. Ini adalah SATU-SATUNYA
cara supaya kita bisa memiliki buah-buah Roh. Tidak ada jalan lain. Tidak
mungkin dengan cara lain.
Yohanes 15:4-6 : TINGGALLAH DI DALAM AKU DAN AKU DI
DALAM KAMU. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya
sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak
berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan
kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam
dia, ia berbuah banyak, SEBAB DI LUAR AKU KAMU TIDAK DAPAT BERBUAT APA-APA.
Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting
dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api
lalu dibakar.
Jadi, bagaimana supaya kita bisa menghasilkan buah
yang baik? Kita harus tinggal di dalam Yesus, maka Yesus akan tinggal di dalam
kita. Tidak ada jalan lain.
Apa artinya “tinggal di dalam Yesus”? Artinya:
• Meninggalkan ego sendiri = mengosongkan diri bagi
Roh Kudus
• Mengizinkan Yesus dan Roh Kudus yang berkarya dalam hidup kita
• 100% berserah kepada Yesus.
• Mengizinkan Yesus dan Roh Kudus yang berkarya dalam hidup kita
• 100% berserah kepada Yesus.
Harus sadar bahwa kita “tidak dapat berbuah dari
dirinya sendiri” kita hanya bisa berbuah bila kita melekat pada Yesus dan
membiarkan Yesus dan Roh Kudus yang bekerja dalam diri kita.
Sekarang, bertumbuh itu ada tahapnya. Dan Petrus sudah
mencatatkan urut-urutannya bagi kita.
2 Petrus 1:3-11 [NKJV yang diindonesiakan] : 1:3
Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang
berkenaan dengan hidup dan kesalehan melalui pengenalan kita akan Dia, yang
telah memanggil kita oleh kemuliaanNya dan rahmatNya.
Dalam satu ayat ini kita mendapatkan banyak informasi:
• Kita TELAH DIANUGERAHI apa? SEGALA SESUATU
YANG BERKENAAN DENGAN HIDUP DAN KESALEHAN.
Jadi kita sudah dikasi segala sesuatu yang berkenaan dengan hidup dan kesalehan! Kita tidak punya alasan untuk berkata kita tidak bisa hidup saleh, karena kita SUDAH DIANUGERAHI SEGALA SESUATU YANG BERKENAAN DENGAN HIDUP DAN KESALEHAN.
Jadi kita sudah dikasi segala sesuatu yang berkenaan dengan hidup dan kesalehan! Kita tidak punya alasan untuk berkata kita tidak bisa hidup saleh, karena kita SUDAH DIANUGERAHI SEGALA SESUATU YANG BERKENAAN DENGAN HIDUP DAN KESALEHAN.
• Siapa yang mengaruniakan itu kepada kita? Tuhan!
Dikatakan di ayat itu, “Kuasa Ilahi” yang mengaruniakan kepada kita.
• Anugerah itu diberikan lewat apa? “Melalui
pengenalan kita akan Kristus.” Semakin akrab kita mengenal Kristus, semakin
banyak informasi dan pelajaran tentang hidup dan kesalehan yang akan kita
peroleh. Berarti, rajin-rajinlah mempelajari Alkitab, karena Alkitab itu
berbicara tentang Kristus. Bila kita mengenal Kristus dengan baik, semakin
banyak yang kita tahu tentang kehidupan Kristen yang dikehendaki Tuhan dan
tentang kesalehan umat Tuhan.
• Siapa Kristus itu? Dia-lah yang telah memanggil kita
oleh kemuliaanNya dan rahmatNya.
1:4 Untuk inilah Ia telah menganugerahkan kepada kita
janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya melalui janji-janji itu
kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, setelah luput dari kerusakan
yang ada di dunia, oleh karena hawa nafsu.
• “Untuk inilah” maksudnya untuk apa? Untuk
mengaruniakan segala sesuatu yang berkenaan dengan hidup dan kesalehan, iya
kan? Jadi, untuk itu, apa yang dilakukan Kristus? Dia memberikan janji-janji.
• Janji-janji apa itu? Bahwa “kamu boleh mengambil
bagian dalam kodrat ilahi”. Jadi kita boleh mengambil bagian dalam kodrat
Ilahi, maksudnya supaya karakter kita bisa sama dengan kodrat Ilahi. Kapan itu
terjadinya?
• Setelah kita luput dari kerusakan di dunia yang
diakibatkan hawa nafsu. Berarti, kita harus luput dulu dari kerusakan di dunia.
1:5,6 Maka khususnya untuk tujuan inilah, dengan
segala ketekunan, tambahkanlah kepada imanmu kebajikan; dan kepada
kebajikan, pengetahuan; dan kepada pengetahuan, penguasaan diri; kepada penguasaan
diri, ketabahan; dan kepada ketabahan, kesalehan;
Sekarang diberikan caranya, atau tahapannya.
“khususnya untuk tujuan ini” ~ tujuan mana? Agar kita “boleh mengambil bagian
dalam kodrat ilahi”, betul? Nah, inilah step by step-nya:
1. Iman ~ ini merupakan langkah awal kita, karena
bisanya kita diselamatkan oleh kasih karunia Tuhan, adalah melalui iman kita,
seperti kata Efesus 2:8. Jadi iman ini adalah yang pertama harus kita miliki.
Tapi jangan hanya berhenti di situ. Sudah benar kita punya iman dan itu yang
membuat kita menerima keselamatan yang diberikan Tuhan, tetapi setelah selamat,
kita harus melanjutkan ke tahap berikutnya, yaitu menambahkan:
2. Kebajikan ~ apa itu kebajikan? Kebajikan itu
sifat-sifat yang baik, sifat-sifat yang luhur, yang mulia. Jadi setelah
menerima keselamatan melalui iman, sifat-sifat kita perlu berubah dari
sifat-sifat yang tidak baik menjadi sifat-sifat yang baik, yang luhur, yang
mulia. Tahap berikutnya perlu menambahkan:
3. Pengetahuan ~ pengetahuan tentang apa ini? Tentu
saja pengetahuan tentang Firman Tuhan, tentang hal-hal yang rohani, tentang
kerajaan Allah, tentang semua ajaran Tuhan, karena dengan memiliki pengetahuan
kita tidak akan disesatkan oleh ajaran-ajaran yang salah, kita tahu mana yang
benar, kita tahu apa kehendak Tuhan, dan kita tahu tanda-tanda akhir zaman,
kita tahu urut-urutan apa yang akan terjadi menjelang kedatangan Kristus yang
kedua, kita tahu bagaimana bisa setia sampai Kristus datang. Jadi pengetahuan
ini penting sekali. Jika kita tidak tahu apa-apa, kita bisa kena tipu segala
nabi dan guru palsu yang akan menjamur semakin dekat kedatangan Kristus.
Berikutnya yang perlu ditambahkan adalah:
4. Penguasaan diri ~ self control, temperance ~
artinya harus punya rem dalam segala hal. Rem itu harus disetting supaya
sejalan dengan ajaran Tuhan. Kalau Tuhan bilang jangan, ya berhenti, jangan
diteruskan. Memiliki rem saja tidak berguna jika kita tidak tahu kapan harus
menginjak rem itu. Itulah sebabnya kita perlu pengetahuan tentang Firman Tuhan
supaya kita tahu kapan harus ngerem pada waktunya. Setelah itu tambahkan:
5. Ketabahan ~ ketabahan itu artinya tahan uji, kuat
bertahan dalam kesukaran, tidak jatuh begitu angin bertiup, kuat menanggung
penderitaan. Sebagai murid-murid Kristus sudah pasti kita ini sasaran Setan,
dan semakin menjelang kedatangan Kristus yang kedua, Setan bekerja semakin
keras untuk menjerat kita. Kehidupan murid-murid Kristus lebih banyak susahnya
ketimbang enaknya. Setan akan berusaha menjauhkan kita dari Kristus. Karena itu
kita harus tabah. Dalam segala kesukaran kita harus ingat bahwa tempat kita
memang bukan di dunia yang sekarang ini. Tempat kita di dunia yang baru.
Kehilangan segalanya di dunia ini tidak terlalu berarti. Yang penting jangan
sampai kita kehilangan hidup kekal di dunia yang baru. Dan jika kita sudah
memiliki semua yang di atas, berikutnya target yang perlu kita raih adalah:
6. Kesalehan ~ apa itu kesalehan? Artinya tidak
berbuat dosa, tidak melanggar perintah Allah. Lho, jadi orang Kristen harus
saleh, tidak? Ternyata ditulis di sini kalau itu termasuk salah satu tahap yang
harus dicapai.
1:7 dan kepada kesalehan, keperdulian pada saudara;
dan kepada keperdulian pada saudara, kasih. Ternyata kesalehan itu masih belum
tahap yang terakhir, karena masih ada dua tahap lagi, yaitu:
7. Keperdulian pada saudara ~ kata aslinya φιλαδελφία
[Philadelphia] biasanya kata ini dipakai untuk kepedulian terhadap saudara
seiman, sesama golongan. Dan bila ini sudah tercapai, maka tibalah kita pada
tingkat yang tertinggi, yaitu:
8. Kasih ~ kata aslinya ἀγάπη [agapē]. Ini sudah
bentuk kasih yang tertinggi, kasih tanpa pamrih, unconditional love bagi sesama
manusia.
1:8,9 Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan
berlimpah-limpah, kamu tidak akan mandul maupun tidak berbuah dalam
pengetahuanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita. Karena barangsiapa tidak memiliki
hal-hal itu, ia rabun, bahkan buta dan telah lupa, bahwa dia telah dibersihkan
dari dosa-dosanya yang lama.
Nah, dikatakan di sini bahwa jika kita sudah memiliki
semua itu dalam jumlah yang berlimpah-limpah, berarti kita sudah berbuah.
Sebaliknya jika kita tidak memiliki hal-hal itu, kita ini buta dan kita sudah
lupa bahwa dosa-dosa kita yang lama sudah diampuni. Apa artinya? Artinya kita
tidak sadar bahwa kita sudah diselamatkan. Dosa-dosa sudah diampuni kan berarti
sudah selamat? Nah, jika kita lupa bahwa dosa-dosa kita sudah diampuni, itu
sama artinya dengan kita lupa bahwa kita sudah diselamatkan. Mengapa? Karena
orang yang sadar dia sudah diselamatkan, sadar bahwa dia harus berbuah, bukan
diam-diam saja tidak perlu bertumbuh dan berbuah.
1:10 Karena itu, saudara-saudaraku, jadilah semakin
bertekun untuk memastikan panggilanmu dan terpilihnya kamu. Karena jikalau kamu
melakukan hal-hal itu, kamu tidak akan pernah tersandung.
1:11 Karena bagimu akan disediakan dengan
berkelimpahan, jalan masuk ke Kerajaan kekal milik Tuhan dan Juruselamat kita,
Yesus Kristus.
Sekarang Petrus memberikan alasannya, “karena itu” ~
karena apa? Karena kita sudah diselamatkan itu, karena dosa-dosa kita yang lama
sudah diampuni itu, maka kita harus “semakin bertekun untuk memastikan
panggilanmu dan terpilihnya kamu”. Lihat, di sini kita HARUS BERBUAT
sesuatu atau tidak? HARUS! Ada dua kata penekanan di sini: “bertekun”
dan “memastikan”. Jadi kita harus bertekun untuk memastikan panggilan kita dan
terpilihnya kita. Berarti kita ikut berkontribusi atau tidak pada kesuksesan
panggilan dan terpilihnya kita? Iya! Kita sendiri ikut menentukan! Kita disuruh
“bertekun” dan “memastikan”.
Maka jelaslah dari ayat-ayat ini bahwa sebelum kita
diselamatkan itu seluruhnya karya Tuhan, Tuhan yang bekerja, Tuhan yang
berbuat, Tuhan yang menyelamatkan, kita hanya menerimanya dengan iman. Tetapi
setelah kita diselamatkan, maka kita harus “bertekun” dan “memastikan” panggilan
dan terpilihnya kita, dengan kata lain kita harus “bertekun” dan “memastikan”
keselamatan kita.
Dan apa yang akan disediakan Tuhan bagi kita jika kita
melakukan apa yang harus kita lakukan? “…jalan masuk ke Kerajaan kekal milik
Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.” Bukankah itu hebat sekali?
Maka bila kita belum melakukan apa yang seharusnya
kita lakukan, sudah waktunya kita memberikan perhatian dan pemikiran kepada
kewajiban kita yang selama ini telah kita lalaikan.
Jadi sekali lagi, sebelum domba itu dibawa pulang ke
kandang Gembala, dia tidak usah berbuat apa-apa, cukup asal dia mau saja
digendong Sang Gembala. Semuanya dilakukan oleh Sang Gembala.
Begitu juga kita. Sebelum kita diselamatkan, kita
tidak usah berbuat apa-apa. Semuanya sudah dilakukan oleh Tuhan bagi kita. Kita
tinggal mau menerimanya saja.
Tetapi setelah domba itu dibawa ke kandang Sang
Gembala, maka domba itu harus berbuat sesuatu untuk kelangsungan hidupnya di
sana.
Begitu juga kita. Setelah kita masuk ke kandang Yesus
Kristus, kita harus “bertekun” dan “memastikan” kita tetap ada di sana, kita
harus “bertekun” dan “memastikan” bahwa panggilan kita dan terpilihnya kita itu
tidak berakhir cuma-cuma, melainkan akan bertahan terus hingga kita tiba di
“Kerajaan kekal milik Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.”
Marilah kita bersama-sama “bertekun” dan “memastikan”
kita akan tiba di “Kerajaan kekal milik Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus
Kristus.”Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar